Kamis, 25 Desember 2008

artikel bandung

Dinas Pendidikan Kota Bandung akhirnya mengeluarkan surat edaran terkait terbitnya Peraturan Pemerintah no. 47 tentang Wajar Dikdas dan PP no. 48 tentang Pendanaan Pendidikan. Dalam surat edaran yang diperuntukkan bagi SDN dan SMPN se-Kota Bandung ini dijelaskan, sekolah tidak boleh lagi memungut Dana Sumbangan Pendidikan (DSP) kepada orang tua siswa.

"Kalau ternyata sudah ada sekolah yang memungut dan menerima DSP dari orang tua, kami minta untuk segera dikembalikan," kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, Oji Mahroji, Minggu (5/10).

Namun, Oji menyatakan, jika ternyata DSP yang sudah diminta dari orang tua siswa telah digunakan untuk program sekolah dan tidak mungkin lagi untuk dikembalikan, maka sekolah tidak harus mengembalikan dana tersebut. Tapi kalau masih ada dana sisa, uang tersebut harus dikembalikan.

"Mungkin sudah ada yang menggunakannya untuk membeli dan membangun fasilitas sekolah, sehingga tidak mungkin lagi untuk dikembalikan. Kalau seperti itu, dikembalikan jika masih ada sisanya," ujarnya.

Sementara itu, kata Oji, untuk iuran bulanan atau SPP, sekolah masih diperbolehkan untuk memungut. Namun hanya sampai Desember mendatang. Selanjutnya sekolah sama sekali tidak boleh memungut iuran apapun, baik DSP ataupun SPP.

"Kenapa sampai Desember , karena untuk selanjutnya sudah ada anggaran 20 persen di 2009 sehingga operasional sekolah akan terpenuhi dari anggaran pemerintah," ucapnya.

Oji menyebutkan, meski masih ada kesimpangsiuran mengenai implementasi dari kedua PP ini, namun Disdik Kota Bandung lebih memilih untuk langsung menerapkan kedua aturan ini. Dengan begitu tidak ada lagi kesimpangsiuran mengenai impelementasi PP khususnya di Kota Bandung.

"Dengan surat edaran yang akan segera kami sebarkan ini semuanya akan semakin jelas, sehingga tidak ada lagi informasi yang membingungkan," ungkapnya. (A-157/A-147)***

Sumber : Pikiran Rakyat edisi Jumat / 10 Oktober 2008

artikel bandung

Dinas Pendidikan Kota Bandung akhirnya mengeluarkan surat edaran terkait terbitnya Peraturan Pemerintah no. 47 tentang Wajar Dikdas dan PP no. 48 tentang Pendanaan Pendidikan. Dalam surat edaran yang diperuntukkan bagi SDN dan SMPN se-Kota Bandung ini dijelaskan, sekolah tidak boleh lagi memungut Dana Sumbangan Pendidikan (DSP) kepada orang tua siswa.

"Kalau ternyata sudah ada sekolah yang memungut dan menerima DSP dari orang tua, kami minta untuk segera dikembalikan," kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, Oji Mahroji, Minggu (5/10).

Namun, Oji menyatakan, jika ternyata DSP yang sudah diminta dari orang tua siswa telah digunakan untuk program sekolah dan tidak mungkin lagi untuk dikembalikan, maka sekolah tidak harus mengembalikan dana tersebut. Tapi kalau masih ada dana sisa, uang tersebut harus dikembalikan.

"Mungkin sudah ada yang menggunakannya untuk membeli dan membangun fasilitas sekolah, sehingga tidak mungkin lagi untuk dikembalikan. Kalau seperti itu, dikembalikan jika masih ada sisanya," ujarnya.

Sementara itu, kata Oji, untuk iuran bulanan atau SPP, sekolah masih diperbolehkan untuk memungut. Namun hanya sampai Desember mendatang. Selanjutnya sekolah sama sekali tidak boleh memungut iuran apapun, baik DSP ataupun SPP.

"Kenapa sampai Desember , karena untuk selanjutnya sudah ada anggaran 20 persen di 2009 sehingga operasional sekolah akan terpenuhi dari anggaran pemerintah," ucapnya.

Oji menyebutkan, meski masih ada kesimpangsiuran mengenai implementasi dari kedua PP ini, namun Disdik Kota Bandung lebih memilih untuk langsung menerapkan kedua aturan ini. Dengan begitu tidak ada lagi kesimpangsiuran mengenai impelementasi PP khususnya di Kota Bandung.

"Dengan surat edaran yang akan segera kami sebarkan ini semuanya akan semakin jelas, sehingga tidak ada lagi informasi yang membingungkan," ungkapnya. (A-157/A-147)***

Sumber : Pikiran Rakyat edisi Jumat / 10 Oktober 2008

artikel jabar

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beberapa waktu yang lalu meminta pengertian masyarakat untuk melakukan hemat energi sehubungan semakin tingginya harga minyak dunia yang mencapai 120 $ per barel dan semakin tingginya tingkat konsumsi BBM di Tanah Air.

Menurutnya, semakin tinggi harga minyak dunia, maka semakin tinggi beban negara melalui subsidi BBM. Beban subsidi yang semakin tinggi akan mengurangi kepentingan pembangunan bagi masyarakat karena tersedot untuk BBM.

Semakin tinggi subsidi, jelas akan mengurangi capaian pertumbuhan pembangunan yang saat ini diarahkan pada pengurangan kemiskinan.

Agar momentum pembangunan melalui APBN 2008 dapat terjaga, maka saat ini Pemerintah telah merencanakan menaikan harga BBM dengan kisaran antara 10 % hingga 30 %.

Pilihan menaikan harga BBM, pasti pilihan yang sangat sulit dan ongkos politiknya yang tinggin. Apalagi di Tahun 2009 akan ada pemilihan umum.

Kepala Bappenas Paskah Suzeta ketika usai mengikuti pembukaan Murenbang Tingkat Nasional di Jakarta beberapa waktu lalu menjelaskan, dengan adanya kenaikan harga BBM, maka akan terdapat pertambahan anggaran sebesar kurang lebih Rp 35 trilyun yang nantinaya akan diberikan langsung kepada rakyat miskin. Tidak ada sekecilm apapun untuk kepentingan lainnya, ujarnya.

Mencermati keadaan dan perkembangan seperti itu, maka kita harus semakin waspada, karena kenaikan harga BBM itu sangat pasti akan diikuti dengan kenaikan lainnya. Belum lagi akan terjadinya konflik sosial, demo dan pemutusan hubungan kerja (PHK). Semuanya itu diyakini akan membebani kehidupan rakyat.

Karena itulah, kita harus melakukan langkah-langkah radikal dalam melakukan penghematan penggunaan energi sehingga tidak banyak ongkos rupiah untuk membeli BBM.

Pertama, hindari penggunaan kendaraan bermotor sekedar hanya untuk kepentingan bersenang-senang atau yang tidak urgen. Kurangi penggunaan kendaraan dinas dan di hari-hari libur tidak boleh menggunakan kendaraan dinas. Jangan memberi fasilitas kendaraan dinas kepada isteri-isteri pejabat. Satu hari sekali, gunakan speda sebagai kendaraan ke kantor “bike to work” atau “bike to study”.

Kedua, hemat energi listrik dengan mematikan lampu yang penerangannya tidak penting. Hentikan penggunaan alat-alat elektronik yang beban dayanya tinggi. Matikan monitor komputer, manakala istirahat, atau akan meninggalkan ruangan dan atau kantor. Kita sering melihat, lampu-lampu di jalan-jalan protokol masih menyala walaupun hari sudah pagi dan sudah siang. Masyarakat bisa saling mengoreksi walaupun itu terhadap PLN.

Ketiga, infrastruktur jalan yang jelek, berlubang, banyak hambatan menjadi salah satu penyebab kemacetan lalulintas yang pada gilirannya menambah beban penggunaan bensin kendaraan. Oleh karena itu, pihak Pemerintah Pusat dan Daerah harus tanggap manakala terjadi kerusakan jalan-jalan. Harus cepat diperbaiki. Selama ini, seringkali dibiarkan berlarut-larut. Masyarakatpun diwajibkan berlaku sopan dan tertib dalam rangka kelancaran lalulintas. Begitupun polisi jalan raya, ia harus tetap sigap dan berada di lokasi manakala terjadi kemacetan, agar cepat terurai. Pelanggar lalulintas, tentu harus ditindak tegas sesuai peraturan.

Keempat, karena semuanya serba naik, maka penghematan dari segi penggunaan anggaran harus segera dilakukan. Membeli barang harus berfikir untuk apa, dan apa perlunya. Di Pemerintahan, “stop” perjalanan yang tidak bermanfaat bagi masyarakat. Stop perjalanan dinas keluar provinsi. Apalagi ke luar negeri.

Kelima, menjaga investor agar tidak hengkang dari Indonesia dengan cara menjaga kondusifitas keamanan. Bila perlu jangan berdemo. Karena para investor/pabrikan sangat tidak senang dengan demo, karena mengganggu produksi. Pungli diberantas. Karena merugikan pengusaha. Permasalahan perburuhan harus segera dituntaskan. Agar tidak berlarut-larut konflik dengan perusahaan.

Semua tindakan itu, perlu dilakukan dengan konsisten dan revolusioner sehingga perubahannya akan nyata. Karena selama ini, bangsa kita terbiasa dimanjakan dengan berbagai fasilitas dan ketersediaan energi. Padahal fasilitas itu dibiayai oleh negara melalui anggaran subsidi.

Sudah sekira lima tahun, negara kita menjadi “net importer” minyak. Artinya, produksi kita sudah tidak memadai dengan kebutuhan sehari-hari. Minyak mentah dijual dan hasil olahannya dibeli. Hemat energi sebagaimana pesan Presiden SBY harus kita respondengan tindak nyata oleh seluruh lapisan masyarakat. Demi anak cucu kita

Senin, 17 November 2008

Bambu Indah: Bali, Indonesia

The Java houses at Bambu Indah are built of teak timbers and are more than 100 years old.
THE BASICS
Readers’ Opinions
Have you stayed at Bambu Indah?
The Canadian-born jewelry designer John Hardy and his American wife, Cynthia, opened Bambu Indah — or “beautiful bamboo” in Balinese — after selling their company, John Hardy, in 2007. The longtime Bali residents turned four transplanted Java houses (each the former residence of a Javanese nobleman and each more than 100 years old) into a rustic retreat on land adjacent to their own ironwood treehouse along the Sayan Ridge in Bali’s bucolic center.Minutes downriver from Ubud’s most decadent resorts, Bambu Indah’s riverfront compound looks out at the stunning cascades of the Ayung River, rice fields, a Hindu temple called Pura Dalem Gede Bongkasa and, beyond, the multiple volcanic ridges surrounding Mount Batu Kau.
THE LOOK
Eco-luxe. Stone paths lead from the bamboo-encased reception area through rice paddies at various stages of growth and past a soaring black bamboo multipurpose structure reminiscent of an ancient ship.
Bambu Indah’s natural swimming pool is virtually indistinguishable from an indigenous pond, thanks to a recyclable black rubber membrane and tiny river fish.
THE ROOMS
Casually roped off from other recycled structures that house the Hardys’ own houseguests, the four one-room cottages are made of hand-carved teak. Named Padi (rice), Kuno (antique), Kuning (yellow) and Afrika by 12-year-old Carina Hardy, they are filled with various treasures collected on the family’s travels, including Tibetan vegetable-dye carpets, Kalimantan shields and Ethiopian rawhide benches.
Mosquito-netted four-poster beds would benefit from some pillow top fluffing, but each room’s movement-sensitive night lighting is a nice touch. The rustic ambience of the interiors is complemented by other modern add-ons like air-conditioning, wireless Internet access and bathrooms with hand-hammered copper sinks, plush towels and open-air rainfall showers.
AMENITIES
Pressure-point massages ($40 an hour) are available by appointment, as are private sessions with the yogi Therese Poulsen, formerly of YogaWorks in New York ($100 an hour).
Guests are given a two-page food questionnaire to help personalize menus. Breakfasts of local fruits like mangosteen and rambutan, plus homemade bread and Indonesia’s strong Toraja coffee, are served on porches, while a picnic lunch ($15 a person) by the river may consist of grilled peppers, mushrooms and cauliflower in a chicken stew. Dinner ($25 a person) might consist of organic greens followed by local grilled fish.
For an excursion, the Hardys’ most recent undertaking, the just-opened Green School (www.greenschool.org), is an eco-engineering feat worth visiting. Built of sustainable natural materials such as bamboo and alang-alang grass, the school is for students of preschool age through year eight.
THE BOTTOM LINE
Bambu Indah is a good stopover for eco-travelers looking for unfussy accommodations and a chance to trek through rice paddies or skinny-dip under the stars. But more pampered campers with aversions to mud or mosquitoes should bunk elsewhere.
The Kuning house costs $200 a night; Kuno is $250; Padi is $395 and the largest, Afrika, is $495. The rates do not include tax and service charge.
Bambu Indah, Banjar Baung, Desa Sayan, Ubud, Gianyar, Bali; (62-361) 975-124; (1-718) 874-8419 from the United States; www.bambuindah.com.
KEBUN TEH PANGALENGAN


PILIHAN LAIN DARI DUA JAM PERJALANAN DENGAN MENGUNAKAN KENDARAAN MELEWATI DAYEUH KOLOT MENUJU SEBUAH PASAR YANG KECIL DI PANGALENGAN, DI SEBELAH TENGGARA BANDUNG, KOTA PANGALENGAN SENDIRI DIBATASI TETAPI MENGELILINGI DAERAH YANG SANGAT MENYENANGKAN. DAERAH TUJUAN KELUAR DARI PANGALENGAN TERMASUK DUA DANAU, SEBUAH PERISTIRAHATAN SUMBER AIR PANAS, KAWAH GUNUNG WAYANG DI DEKATNYA, DAN SEBUAH PERKEBUNAN THE YANG SANGAT BESAR.
KONDISI JALAN YANG MENAKUTKAN YANG SELANJUTNYA JALAN BERCABANG SEBELUM SANTOSA SEBUAH DAERAH KECIL PABRIK PEMBUATAN TEH, DAN GUNUNG PAPANDAYAN, MENUJU CISEWU DAN KE SELATAN PESISIR PANTAI. JALAN LAIN MENGHUBUNGKAN MENUJU LEMBAH CIWIDEY, SANTOSA ADALAH KAWASAN YANG MENYENANGKAN, MENAWARKAN UNTUK BERMALAM DI PERKEBUNAN THE, TINGGAL UNTUK BERSANTAI DARI KEHIDUPAN KOTA YANG SIBUK, PERKEBUNAN TEH DIKELOLA OLEH PERUSAHAAN PERKEBUNAN PTP XIII DI SEBELAH SELATAN KOTA PANGALENGAN.